Lucifer Effect
Tahun 1971, ada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh seorang ahli psikologi bernama Philip Zimbardo. Premis utama dari eksperimen tersebut adalah seseorang yang baik, bisa berubah jahat dengan faktor-faktor tertentu.
Dimulai dengan mengumpulkan beberapa orang yang kemudian diberi peran sebagai tahanan, dan penjaga alias sipir. Sebelum mengikuti eksperimen ini, semua peserta sudah melalui cek kesehatan mental, dan mesti bersih dari catatan juga sekecil apapun. Maka terkumpul sejumlah orang yang menjadi partisipan, mereka sudah melalui tes tersebut. Para partisipan sudah dipastikan tidak memiliki gangguan kesehatan mental, juga tidak pernah melakukan atau terlibat dalam kriminal apapun itu.
Eksperimen dimulai, semua partisipan ditempatkan di sebuah ruangan yang mirip seperti penjara. Semuanya sudah diatur, sehingga persis menjadi penjara sungguhan.
Partisipan yang mendapatkan peran menjadi sipir, diberi kebebasan untuk melakukan apa saja pada para partisipan yang mendapatkan peran sebagai tahanan. Hanya ada dua hukuman yang tidak diperbolehkan, yakni hukuman fisik seperti memukul atau melecut dan sebagainya. Serta hukuman berbentuk pengurangan makanan. Hukuman selain itu diperbolehkan.
Pada akhirnya, partisipan yang menjadi sipir justru membentak, melakukan tindakan kekerasan verbal, meminta para tahanan melakukan hukuman seperti push up dan hukuman lainnya, melakukan physical abuse, dan lain sebagainya.
Karena tindakan para sipir sudah kelewatan batas, eksperimen yang tadinya akan dilakukan selama 2 minggu, justru hanya dilakukan selama 6 hari.
Selama 6 hari eksperimen, kegiatan tersebut memberikan hasil dan kesimpulan, bahwa ketika seseorang mendapatkan peran untuk menjadi pengatur "tubuh" orang lain, mendapatkan situasi yang mendukung untuk hal itu, maka individu justru bisa berubah menjadi seorang yang bengis dan kejam.
Pemberian peran pada seseorang, nyatanya mampu mengubah sikapnya. Apalagi, bila seseorang tersebut mendapatkan peran yang "mewajibkan" ia menjadi seorang yang mesti melakukan tindakan yang tidak manusiawi. Maka, proses "internalisasi" peran tersebut menjadikan ia berubah menjadi keji.
Meski eksperimen tersebut memberikan kontribusi bagi pengetahuan khususnya di bidang psikologi, namun banyak sekali partisipan yang menjadi trauma, dan berubah sifatnya pasca mengikuti eksperimen tersebut. Oleh karena itu, penelitian yang serupa tidak pernah lagi bisa dilakukan.
Selanjutnya, efek yang memengaruhi sikap seseorang menjadi keji, dan sebagainya tersebut disebut sebagai "efek lucifer".
Lucifer effect merupakan suatu istilah yang diciptakan oleh Phillip Zimbardo yang menjelaskan jika orang-orang yang awalnya memiliki kepribadian baik dapat berubah menjadi jahat. Lucifer effect sesuai dengan sifat Iblis yang dulunya merupakan malaikat favorit Tuhan yang kemudian dikutuk setelah tindakan tidak patuhnya akan perintah Tuhan. Lucifer effect merupakan penjelasan proses psikologis yang terjadi pada individu biasa, bahkan tergolong berperilaku baik mulai berbuat kejam dan dianggap tidak bermoral.
Efek lucifer atau lucifer effect ini dibahas dalam salah satu buku karya Zimbardo sendiri yang berjudul "The Lucifer Effect". Buku ini menelusuri dalamnya pemikiran manusia. Hasilnya, Dr. Zimbardo mendapatkan bahwa kita dihadapkan pada garis tipis antara kebajikan dan kebuasan setiap harinya. Namun, bukan hanya sifat kita yang menentukan apakah kita akan jatuh di sisi kebaikan atau kejahatan, melainkan berbagai kekuatan situasi yang melingkupi kehidupan kita dan kita persepsikan.
Pada kasus Ivan Frederik, seorang mantan tentara Amerika yang bekerja sebagai penjaga di penjara Abu Ghraib. Di tahun 2003, penjara Abu Ghraib menarik perhatian dunia karena kekejaman penjaganya yang menyiksa dan menganiaya tahanan berkebangsaan Irak di sana.
Apakah Frederik orang yang pada dasarnya sadis sebelum penugasannya di Abu Ghraib? Tidak juga. Malah sebaliknya. Ia sangat ‘normal’ dan patriotik, pemuda penggemar baseball dari Virginia, IQ rata-rata, tanpa tanda-tanda ketidakstabilan ataupun penyakit psikologis apapun dalam rekaman penilaiannya. Namun di Abu Ghraib, dia berubah menjadi seorang monster.
Dalam banyak interview ataupun jajak pendapat, orang-orang menganggap kasus Frederik adalah dispositional cause - sifat bawaan lahir. Namun, berdasarkan hasil penelitian, ada banyak faktor yang bersifat kondisional yang sebenarnya lebih berpengaruh terhadap perubahan karakter Frederik.
Kembali pada pemikiran Dr. Zimbardo pada hal ini, Zimbardo menjelaskan jika dalam lucifer effect terjadi proses dehumanisasi yang tidak bisa dihindari. Faktor situasional, dinamika sosial dari konteks tertentu dan tekanan psikologis dapat menyebabkan kejahatan muncul dalam diri kita.
Pada akhirnya, dari semua penjelasan tentang lucifer effect, kita dapat menyimpulkan dan memahami, bahwa setiap manusia menyimpan kebaikan yang paling besar dan kejahatan yang paling menakutkan. Ini adalah sesuatu yang kita bosan untuk lihat hari demi hari dalam hidup kita.
Meskipun demikian, hanya orang baik yang bisa mencegah kejahatan bersarang di dalam dirinya dan dengan demikian mengarahkan jalan Anda. Karena membuat kita sadar akan hal ini, mengubah dan bahkan mengendalikan efek Lucifer adalah mungkin
Komentar
Posting Komentar